Jadi Orang Tua Itu Nggak Ada “Sekolahnya”, Tapi Kok Kita Sering Lupa Belajar?

Halo Ayah dan Bunda! Mari kita jujur-jujuran sebentar. Kapan terakhir kali Bunda merasa ingin “menyerah” saat si Kecil yang usia 4 tahun mulai mogok mandi, atau saat si Kakak yang sudah 10 tahun mulai menjawab dengan argumen yang bikin kita tarik napas dalam-dalam?

Seringkali kita merasa bahwa menjadi orang tua itu insting. “Nanti juga bisa sendiri,” atau “Dulu orang tua kita nggak pakai ilmu-ilmuan tetap jadi tuh.” Tapi, zaman sudah berubah, tantangannya pun beda.

Berikut adalah alasan kenapa meluangkan waktu sejenak untuk ikut parenting (kelas, seminar, atau sekadar baca literatur) itu bukan berarti kita “nggak mampu”, tapi justru karena kita peduli.

Kenapa Usia 4-12 Tahun Itu Masa “Emas” yang Berbeda?

Pada rentang usia ini, anak-anak sedang bertransformasi dari balita yang menggemaskan menjadi individu yang mulai punya opini sendiri.

  • Usia 4-6 Tahun: Masa pembentukan karakter dasar dan regulasi emosi. Di sini kita belajar bagaimana menghadapi tantrum dengan kepala dingin tanpa harus ikut-ikutan meledak.

  • Usia 7-12 Tahun: Masuki usia sekolah, tantangannya pindah ke arah sosialisasi, kepercayaan diri, hingga mulai mengenal dunia digital. Di sini, cara komunikasi kita harus mulai bergeser dari “memerintah” menjadi “mendampingi”.

Apa Sih Untungnya Ikut Kelas Parenting?

Bukan cuma buat anak, lho. Manfaat terbesarnya justru buat ketenangan jiwa kita sebagai orang tua:

  1. Punya “Toolbox” yang Lengkap: Kalau anak sulit diatur, kita punya cara lain selain berteriak. Kita jadi tahu teknik positive discipline yang lebih efektif.

  2. Mengurangi Rasa Bersalah: Pernah menyesal setelah memarahi anak? Dengan ilmu parenting, kita jadi lebih paham pemicu emosi kita sendiri dan bagaimana mengelolanya.

  3. Membangun Koneksi, Bukan Sekadar Koreksi: Kita belajar cara mendengarkan yang bikin anak merasa divalidasi. Hasilnya? Anak jadi lebih terbuka dan nyaman curhat sama orang tuanya.

  4. Update dengan Tantangan Zaman: Isu cyberbullying, kesehatan mental, hingga kecanduan gadget nggak dialami orang tua kita dulu. Kita butuh strategi baru untuk ini.

“Parenting” Bukan Berarti Harus Sempurna

Mengikuti parenting bukan supaya kita jadi “Orang Tua Sempurna” yang nggak pernah marah. Sama sekali bukan. Justru ilmu ini membantu kita jadi Orang Tua yang Sadar (Conscious Parent). Sadar kalau kita salah, tahu cara minta maaf ke anak, dan tahu cara memperbaikinya.

Jadi, yuk, jangan ragu untuk terus belajar. Karena investasi terbaik untuk masa depan anak bukanlah sekadar tabungan pendidikan, tapi kehadiran kita yang penuh pengertian.

Anak-anak tidak butuh orang tua yang tahu segalanya, mereka hanya butuh orang tua yang mau belajar memahami dunia mereka. ✨

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments